• Platinum Director

    Johannes Susilo

    Nur Hayati Zebua

    Rendy Ibrahim


    Gold Director

    Cathy Christina Malonda

    Pt Benta Abadi


    Silver Director

    Alex Setiawan
    Alfiansyah
    Amin Sofaan
    Andre Halim
    Bachrul Effendi, Drs
    Candra Ayu Kusumawati
    Dailalul Khairat
    Dessy Hutabarat
    Dr Fenny
    Dr Hardjanto
    Dr Yulius Buana Rusli
    Dr. Lany Setyawati
    DR. Sulistya Putra .ST,MA
    Dyah Wendy Hartati
    Edhi Wijono
    Eko Budi Haryanto
    Felix C
    Fernando Malonda
    dr. Gloria Intan Suryani
    Hardati Nur
    Ivone Malonda
    Iwan Suherli
    Jeffrey Cahyono
    Joni Suwarno
    Kiat Setiadji
    Kurniawan Budiman SE
    Liem Analia Indrawati
    Lina Lukman
    Linda
    Luluk Handoyo
    M Sweety Muchsin Afiat
    Monica Saraswati
    Munif Dwiyono, Ir
    Njauw Tje Tjoeng
    Nusa Imanadi
    Renny Cohen
    Rina Christina
    Roman Sumantri
    Rudy
    Sabniel Gustiyan
    Sonny Tjahjadi
    Teddy Saputra
    Tintin Suradja
    Yantty
    Yenny Christanti
    Yurni Zulkarnaen, SH. MH.

  • Johannes Susilo

    Pada ajang LPGN Recognition Day 2015 yang bertajuk “Big Dream” di Hotel Santika, 5 Desember lalu, KISS Community,Komunitas yang didirikan oleh Ir. Johannes Susilo ini telah menunjukkan eksistensinya dengan menghantarkan anggotanya naik keatas panggung untuk mendapatkan penghargaan di momen tersebut. Kesuksesan KISS Community tidak terlepas dari sosok sederhana Ir Johannes Susilo. Top leader LPGN ini mengakui mendirikan komunitas ini bukanlah sebagai support system yang umumnya pada perusahaan network marketing. Sebab, komunitas yang ia bangun lewat mitra berbagi sehat (MBS) ini, tidak berorientasi kepada bisnis, melainkan lebih kepada sharing dan berbagi.

    Ia akui konsep di KISS Community agak ‘melawan arus’. Pasalnya, diantara banyaknya perusahaan network marketing yang berlomba-lomba mengejar omset dan pengembangan jaringan, jusru Johannes menerapkan konsep ‘berbagi sehat’ bukan konsep berbisnis, melainkan sebuah konsep berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang product knowledge Laminine, melalui sosialisasi di setiap pertemuan dan seminar. Menurut Johannes, KISS Community tidak mengutamakan penjualan produk semata, tetapi lebih kepada niat membantu orang lain serta memberikan awareness atau penyadaran terhadap pentingnya nilai sebuah kesehatan, sehingga pihaknya lebih mudah diterima oleh masyarakat secara luas. Begitu juga dalam seminar yang diselenggarakanya, ia tidak memaksakan closing, hal ini tentu membuat pesertanya merasa nyaman dan tidak punya beban apa pun. “Kami selalu berusaha di setiap seminar, membuat orang merasa berkebutuhan. Dengan demikian secara otomatis sales pun terjadi dengan sendirinya tanpa harus di clossing,” ungkapnya.

    Bersama LPGN Pria kelahiran Sanggau, Kalimantan Barat, 12 Oktober 1966 ini telah meraih mobil Ford Fiesta sebagai reward dari pencapaian Platinum Director, Honda CRV Prastige, cash reward dan berbagai trip wisata mulai dari Amerika Hongkong, Korea Selatan, Vietnam, dan European Cruise.


    Rendy Ibrahim

    Manager produksi di perusahaan tekstil ini, memilih bergabung di LPGN berkat kesembuhan istrinya dari penyakit Lupus. Mengkonsumsi produk Laminine telah jadi rutinitas sehari-hari Rendy dan istrinya. Tapi siapa sangka dari seorang loyal customer Rendy Ibrahim (46) bisa meraih sukses di PT LPGN (Life- Pharm Global Network). Bahkan ia pun mantap untuk meninggalkan kerja konvensionalnya itu agar fokus di LPGN.

    KENAL produk Laminine dari LPGN sejak awal tahun 2013 melalui Ir Johannes Susilo. Rendy Ibrahim (46), ayah tiga anak ini akhirnya mendapati kemajuan atas penyakit autoimun (Lupus) yang diderita istrinya sejak lama. Dewi Suryawati (42) yang rutin mengkonsumsi Laminine berangsur membaik. Dari sanalah ia begitu yakin terhadap produk Laminine yang banyak dibutuhkan banyak orang. “Jadi, istri saya sejak 2011 sudah jadi odapus, kata dokter jenis penyakitnya itu tidak bisa disembuhkan. Dan akan ketergantungan obat, hanya dosisnya saja yang kurangi jika kondisinya normal. Lupus menyerang trombosit dalam tubuh karena auto imunnya yang tinggi, pernah trombositnya turun sampai 5000. Perawatan yang berjalan selama dua tahun, hanya mampu menaikkan trombositnya 100 ribu, itu kondisi yang cukup amanlah. Karena normal trombosit 150 ribu–450 ribu,” jelas Rendy Ibrahim.

    Sejak istrinya rutin mengkonsumsi Laminine, Rendy cukup terkejut karena trombositnya naik secara signifikan. Setelah sebulan mengkonsumsi Laminine, sebulan kemudian trombosit mencapai 160 ribu dan bulan depannya lagi setelah di cek kembali terus naik hingga 170 ribu. Dan setelah tiga bulan kembali di cek (Agustus) trombosit istrinya sudah kembali normal di 350 ribu. Dari pengalaman itulah Rendy memutuskan bergabung di LPGN dan mulai mensosialisasikan Laminine sejak Agustus 2013. Selain istrinya awalnya Rendy juga hanya sebagai user atau konsumen yang mengkonsumsi produknya saja. Tetapi setelah Rendy juga merasakan manfaatnya, saraf kejepit yang dideritanya pulih, ia mulai memasarkan Laminine. ”Ternyata puji Tuhan, keunggulan produknya yang bagus dan unik maka pemasarannya pun berkembang dengan baik,” tukasnya. Melihat background perusahaan LPGN berasal dari Amerika yang sudah eksis di pasaran konvensional sejak belasan tahun dan sudah memiliki izin BPOM RI, maka Rendy pun semakin yakin.

    Tepatnya pada Oktober 2013, pria yang telah bekerja selama 20 tahun di industri tekstil ini akhirnya serius memasarkan Laminine lewat Stockistmiliknya di Bandung, Jawa Barat. “Sampai saat ini jaringan saya banyak yang menjadi loyal customer sejak 2013 sampai sekarang setia mengkonsumsi Laminine ini. Selain itu banyak juga dijaringan saya yang turut mengembangkan bisnisnya. Sehingga membuat peringkat saya di LPGN naik dan bisa dibilang tertinggi di Indonesia,” ungkap Rendy. Dengan Berbagi Sehat Dollar pun Mengejar Setiap usaha tidak selalu berjalan mulus, berbagai penolakkan pun di alami Rendy. Tapi ia yakin salah satu sebabnya adalah soal finansial. Sesungguhnya orang yang ia kenalkan dengan produk Laminine rata-rata merasa cocok dengan produknya. “Ya, produk yang baik tentu ada nilainya. Mereka suka hitung dan membandingkan dengan produk lain. Tapi rata-rata yang dikenalkan hampir 70-80% closing. Terutama bagi mereka yang secara finansial cukup dan punya kesadaran tinggi terhadap kesehatan. Merekalah yang banyak menjadi loyal customer produk Laminine,” kilahnya.

    Rendy bersemangat menjalankan bisnisnya di LPGN ia yakin banyak orang yang butuh produk Laminine. Selain itu, manajemen LPGN diakuinya cukup terbuka dan mau menerima masukan. Dengan perhitungan bonus yang transparan, ia dapat virtual office untuk melihat siapa saja yang bergabung di jaringannya dan berapa bonus yang ia dapatkan. Meski awalnya Rendy tidak terlalu peduli sisi bisnisnya, namun lewat KISS Community dengan konsep berbagi sehat bersama Ir Johannes Susilo, ia pun dapat memberikan edukasi kepada Mitra Berbagi Sehat (MBS) secara baik dan benar. “Jadi, hanya dengan berbagi informasi kesehatan, kita edukasi para mitra kita dengan baik dan benar terhadap product knowledge serta berbagai keunggulannya. Setelah mereka merasakan manfaatnya maka kata founder KISS Community, Ir Johannes Susilo, kita tidak mengejar dollar, tetapi dollar yang akan mengejar kita,” paparnya tersenyum.

  • Cathy Malonda

    A 20-year veteran of network marketing, Johannes Susilo chose to join LifePharm Global Network "because of the product and the compensation plan that is fair." Now he works his LPGN business full time. "My tips for success are: Do everything with spirit, share because you care, and never give up. With LPGN, I personally became healthier and knew I could make a lot of money as well as help other people improve their lives." Looking toward Titanium, Johannes intends to "make every IBO a loyal customer with monthly Auto-Delivery orders." Over the long term, Johannes wants "to create 100,000 loyal customers who consume at least two boxes of Laminine each month."

  • Iwan Suherli

    MEDICAL representative merupakan profesi yang pernah digelutinya cukup lama pada sebuah perusahaan swasta nasional, di Jakarta. Selain itu, ia juga pernah merintis usaha toko komputer. Namun sayang, Dewi Fortuna belum berpihak kepadanya. Usahanya itu mengalami dua kali kebangkrutan. Demikian kisah singkat Iwan Suherli, pria lulusan S1-Fasmasi Universitas Pancasila, Jakarta.

    Kondisi sulit yang dialami membuatnya tidak hanya diam, Iwan terus mencari berbagai peluang usaha hingga akhirnya pada Maret 2014 Iwan menemukan bisnis LPGN yang memasarkan produk suplemen Laminine melalui sisem penjualan langsung berjenjang atau populer multilevel marketing (MLM). Pria, kelahiran Sukabumi, 25 Oktober 1967 ini awalnya diundang oleh temannya Susi untuk mengikuti sebuah presentasi. Dalam presentasi itu, top leader LPGN Ir Johannes Susilo tampil membawakan Mengalami kebangkrutan dari usahanya dua tahun lalu, Iwan Suherli (48) mencoba peruntungannya di bisnis network marketing.

    Berkat pengalaman sebagai Medical representative, ia sukses lewat berbagi informasi manfaat produk Laminine. Sebuah Mobil Honda HRV kini telah ia miliki hasil dari bisnisnya di PT Lifepharm Global Network Indonesia (LPGN). materi dan menceritakan tentang sel induk (Stemcell). Ketika itulah Iwan langsung tertarik dengan produk Laminine. “Wah inilah produk yang saya cari-cari,” kenangnya. Sebagai mantan seorang Medrep, yang notabenenya mengetahui tentang berbagai macam jenis obatobatan, membuatnya kerap menjadi tempat bertanya banyak temannya perihal obat-obatan yang cocok untuk penyakit yang dialami temannya. “Ada satu pasien di Padang, saya kasih sampai delapan jenis obat, tetapi tetap saja nggak sembuhsembuh. Akhirnya dia frustasi. Dia bilang, kamu kirim obat apa sajalah saya minum. Akhirnya saya kasih Laminine ini, lalu ajaibnya dia bisa bangun. Nah, mulai saat itu saya yakin ini produk bagus,” terangnya.

    Dari pengalamannya itulah Iwan kemudian mencoba mengenalkan produk Laminine kepada banyak orang dari mulut ke mulut, hingga informasinya berkembang ke berbagai daerah. Akhirnya ia merasa nyaman, serius dan fokus untuk berbagi informasi akan manfaat produk Laminine. Terlebih lagi, soal bonus hasil penjualan produk Laminine itu, sudah cukup untuk dijadikan sandaran hidupnya hingga tiba masa pesnsiunnya kelak. “Ya karena saya sudah berkecimpung lama pada bidang farmasi, saya sudah kenal banyak dokter dan pasien. Saya tinggal tanya saja keluhannya apa, pasti mereka memiliki kebutuhan untuk tetap sehat. Kehidupan sekarang ini kan banyak sekali faktor-faktor resiko yang menyebabkan kesehatan seseorang drop. Jadi saya kenalkan saja keunggulan Laminine,” jelasnya.